Gerakan Penanaman Pohon Serentak di Kabupaten Bogor mengecam kontropersi masyarakat
TV3INDONESIA.BOGOR JAWA BARAT – Alih alih Kabupaten Bogor kembali disibukkan dengan Gerakan Penanaman Pohon Serentak. Bibit ditanam, kamera dinyalakan, pejabat berpose, lalu publik diminta percaya bahwa lingkungan sedang diselamatkan. Namun di balik hiruk-pikuk seremoni itu, muncul pertanyaan tajam yang tak bisa dihindari: apakah yang ditanam benar-benar pohon, atau sekadar ilusi kepedulian?
Fakta di lapangan berbicara keras. Banjir, longsor, dan krisis resapan air terus berulang, sementara kawasan hijau kian tergerus oleh beton dan kepentingan investasi. Ironisnya, di tengah gencarnya penanaman pohon, izin pembangunan di wilayah rawan dan kawasan hijau justru terus berjalan tanpa rem yang jelas.
Gerakan ini berpotensi berubah menjadi panggung pencitraan massal jika tidak dibarengi keberanian politik untuk menghentikan perusakan lingkungan. Menanam ribuan bibit tidak ada artinya jika satu izin alih fungsi lahan mampu menghapusnya dalam semalam.
Lebih menyedihkan lagi, publik jarang diberi jawaban: berapa pohon yang hidup setelah ditanam? Siapa yang merawat? Di mana laporan evaluasinya? Tanpa transparansi dan akuntabilitas, penanaman pohon hanyalah agenda foto—bukan agenda penyelamatan.
Warga pun mulai muak dengan simbolisme. Mereka tidak butuh janji hijau di spanduk, tapi tindakan nyata yang berani menolak proyek merusak lingkungan. Kesadaran ekologis tidak lahir dari seremoni, melainkan dari konsistensi kebijakan yang berpihak pada alam, bukan modal.
Jika Gerakan Penanaman Pohon Serentak hanya berhenti pada seremonial tahunan, maka ia bukan solusi, melainkan pengalihan isu yang dibungkus narasi kepedulian.
Kabupaten Bogor tidak kekurangan bibit, yang langka adalah keberanian menegakkan komitmen lingkungan. Saatnya publik bertanya lebih keras:
apakah kita sedang menanam pohon, atau sedang dikubur oleh kepura-puraan??
Elis Sufriani Yusuf











